ARTIKEL AKSI NYATA BUDAYA POSITIF
“ARTIKEL AKSI NYATA MODUL 1.4”
Diterbitkan : 13 Juni 2024 03:00
Sumber : LMS Guru Penggerak Modul 1.4 Budaya Positif
Penulis : Muhammad Tajidinnor
Nama : Muhammad Tajidinnor,S.T, Gr.
CGP Angkatan : X
Kabupaten : Hulu Sungai Utara
Sekolah Asal : SMK Negeri 2 Amuntai
1. Latar Belakang
Anak diberikan kesempatan untuk mengembangkan minat, bakat serta potensi sebagai individu yang unik, jadi tugas guru memberikan tuntunan agar anak tidak kehilangan arah sehingga terciptalah kemerdekaan dalam diri anak tersebut.
Budaya positif disekolah sangatlah penting untuk dikembangkan, karena sekolah merupakan bagian tripusat pendidikan, tempat tumbuh dan berkembangnya karakter anak. salah satu langkah membentuk lingkungan kelas agar terciptanya budaya positif yaitu dengan membuat kesepakatan kelas, sehingga anak memiliki keyakinan dan kesadaran akan penerapan disiplin berdasarkan motivasi internal sehingga memiliki karakter yang kuat sesuai Profil Pelajar Pancasila.
Selama ini, penanganan terhadap murid yang melakukan
tindakan yang melanggar aturan adalah dengan dihukum, sehingga murid mematuhi
peraturan hanya karena takut dihukum, bukan karena memiliki kesadaran atau
motivasi dari dalam dirinnya oleh karena itu perlu adanya penanaman budaya
positif disekolah, dalam penanaman budaya positif peran guru sangatlah penting
untuk mewujudkan karena sebagai posisi kontrol. Seorang guru harus memahami
posisi kontrol yang paling baik adalah posisi manager. Hal ini sesuai dengan
tujuan pendidikan bahwa seorang guru adalah menuntun murid
Pada pembelajaran akhir di Modul 1.4 ini saya melakukan aksi nyata yaitu dengan membuat kegiatan pengimbasan materi untuk rekan-rekan sejawat di sekolah saya. Kegiatan pengimbasan ini sebagai ruang untuk berbagi informasi dan sebagai ruang untuk berkolaborasi antar guru di sekolah saya. Harapan saya ilmu yang didapatkan dalam Pendidikan Calon Guru Penggerak ini dapat bermanfaat bagi orang lain terutama rekan kerja saya dalam mendidik putra putri bangsa kita tercinta ini. Kami ingin bersinergi untuk belajar bersama tentang Disiplin Positif dan bagaimana strategi yang harus dilakukan untuk mewujudkannya menjadi budaya positif baik dilingkup kelas maupun sekolah. Dengan waktu kurang lebih satu jam kami di pertemukan dalam sesi kegiatan pengimbasan sederhana sehingga kita dapat saling berbagi ilmu serta pengalaman di kelas kami masing-masing. Harapan saya dengan mengajak rekan satu sekolah akan berdampak lebih luas dalam pengimbasan tentang budaya positif ini.
2. Tujuan
- Mewujudkan murid yang mandiri dan disiplin diri yang kuat
- Menerapkan budaya positif disekolah dengan meyakini nilai-nilai kebajikan universal
- Menghadap kepala sekolah untuk berdiskusi tentang pentingnya penanaman budaya positif dan keyakinan kelas serta meminta dukungan dalam melakukan pengimbasan budaya positif
- Pengimbasan budaya positif terhadap rekan guru berupa diseminasi
- Mengundang rekan guru untuk menghadiri diseminasi pemahaman budaya positif
- Berkoordinasi dan berkolaborasi dengan wali kelas serta guru bimbingan konseling untuk membuat keyakinan kelas
- Memantau, merefleksi dan mengevaluasi keyakinan kelas yang telah dilaksanakan
- Dukungan dari seluruh warga sekolah, (kepala sekolah, guru, dan murid)
- Sarana dan prasarana
- Orang tua atau wali murid
- Dukungan industri dunia usaha dan dunia kerja
- Perubahan paradigma pembelajaran ini merupakan pergeseran antara stimulus respon menjadi teori control. Pembelajaran dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran yang berpihak kepada murid dan berdiferensiasi, sehingga setiap murid akan belajar sesuai dengan kebutuhan dari tahap perkembangannya untuk menjadi manusia yang bisa meraih keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dimasa depan nanti.
- Makna kata disiplin itu sendiri adalah sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapat kepatuhan. Kemudian yang dimaksud dengan disiplin positif adalah pendekatan untuk mendidik murid yang bertujuan untuk membentuk control diri dan meningkatkan kepercayaan diri, sehingga mereka bisa berperilaku dengan berpedoman kepada nilai-nilai kebajikan universal yaitu, sifat positif manusia, merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai oleh setiap individu, terlepas dari suku bangsa, bahasa, agama, maupun latar belakangnya.
- Setiap perilaku salah atau tindakan indisipliner yang dilakukan oleh murid kita pasti punya motivasi tertentu yang terbagi menjadi tiga, yaitu : untuk menghindari ketidaknyamanan / hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan, kemudian motivasi yang paling baik adalah untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percayai. Dari tidakan yang didasari motivasi-motivasi tersebut maka seorang guru akan memberikan respon kepada muridnya yang dikategorikan menjadi konsep disiplin identitas gagal dan konsep disiplin identitas sukses. Konsep disiplin identitas gagal mencakup 2 tindakan yaitu memberikan hukuman dan penghargaan, yang dimaksud dengan hukuman adalah bentuk pengendalian perilaku seseorang yang bersifat memaksa dan menyakitkan, sedangkan penghargaan adalah bentuk pengendalian perilaku seseorang dengan suatu imbalan benda / peristiwa yang diinginkan. Kemudian konsep disiplin identitas sukses mencakup 2 tindakan yaitu konsekuensi dan restitusi, yang dimaksud dengan konsekuensi adalah bentuk pengendalian perilaku seseorang yang membutuhkan proses stimulus respon, sedangkan restitusi adalah proses mencipakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan sehingga mereka bisa kembali pada kelompoknya dengan karakter yang lebih kuat.
- Murid kita melakukan suatu tindakan indisipliner tersebuat bisa saja karena kebutuhan dasar mereka belum terpenuhi, sehingga mereka berusaha mencari cara agar bisa terpenuhi. Kebutuhan tersebut dibagi menjadi lima, yaitu : bertahan hidup, kasih sayang dan rasa diterima, penguasaan, kebebasan, dan kesenangan.
- Diperlukan suatu nilai yang membantu mereka menjadi murid yang berbudaya positif dalam hal ini adalah keyakinan kelas, yaitu nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati oleh guru dan murid secara tersirat dan tersurat dalam kelas sebagai acuan dalam berperilaku terhadap diri sendiri dan orang lain dalam lingkungan tersebut.
- Budaya positif juga bisa diwujudkan dengan memiliki posisi control terbaik sebagai seorang guru dalam merespon tindakan indisipliner murid. Posisi control tersebut dibagi menjadi lima, yaitu, penghukum, pembuat merasa bersalah, teman, pemantau dan manager. Dalam hal ini posisi manager di anggap sebagai posisi control yang terbaik dan ideal untuk diterapkan.
- Pada posisi manager guru tidak berperan sebagai pengatur perilaku muridnya, melaikan guru sebagai pembimbing murid agar bisa mengatur dirinya menjadi pribadi dengan karakter yang lebih kuat lagi. Disinilah konsep disiplin identitas sukses diterapkan melalui restitusi yang memiliki 3 tahapan, yaitu : mensatabilkan identitas, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan.
- Mengevaluasi kesepakatan kelas yang telah dibuat secara berkala
- Menempatkan diri pada posisi control manager secara konsisten dan berkelanjutan
- Menerapkan segitiga restitusi pada setiap masalah yang ada
- Berkolaborasi dengan semua pihak demi terwujudnya Budaya positif
Komentar
Posting Komentar